Rabu, 01 Oktober 2014

What is Civil Engineering?

Civil engineering is arguably the oldest engineering discipline. It deals with the built environment and can be dated to the first time someone placed a roof over his or her head or laid a tree trunk across a river to make it easier to get across.
The built environment encompasses much of what defines modern civilization. Buildings and bridges are often the first constructions that come to mind, as they are the most conspicuous creations of structural engineering, one of civil engineering's major sub-disciplines. Roads, railroads, subway systems, and airports are designed by transportation engineers, another category of civil engineering. And then there are the less visible creations of civil engineers. Every time you open a water faucet, you expect water to come out, without thinking that civil engineers made it possible. New York City has one of the world’s most impressive water supply systems, receiving billions of gallons of high-quality water from the Catskills over one hundred miles away. Similarly, not many people seem to worry about what happens to the water after it has served its purposes. The old civil engineering discipline of sanitary engineering has evolved into modern environmental engineering of such significance that most academic departments have changed their names to civil and environmental engineering.
These few examples illustrate that civil engineers do a lot more than design buildings and bridges. They can be found in the aerospace industry, designing jetliners and space stations; in the automotive industry, perfecting the load-carrying capacity of a chassis and improving the crashworthiness of bumpers and doors; and they can be found in the ship building industry, the power industry, and many other industries wherever constructed facilities are involved. And they plan and oversee the construction of these facilities as construction managers.
Civil engineering is an exciting profession because at the end of the day you can see the results of your work, whether this is a completed bridge, a high-rise building, a subway station, or a hydroelectric dam.
Please look at the Web pages of our individual faculty members to learn more about their special interests as examples of what civil engineering and engineering mechanics is and can be about.

Minggu, 14 September 2014


"My Love"


An empty street, an empty house
A hole inside my heart
I'm all alone, the rooms are getting smaller.
I wonder how, I wonder why, I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together.(oh yeah)

And all my love, I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far

[Chorus:]
So I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue, to see you once again... my love.
All the seas from coast to coast
To find the place I Love The Most
Where the fields are green, to see you once again... my love.

I try to read, I go to work
I'm laughing with my friends
But I can't stop to keep myself from thinking. (oh no)
I wonder how, I wonder why, I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together.(oh yeah)

And all my love, I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far

So I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue, to see you once again... my love.
All the seas from coast to coast
To find the place I Love The Most
Where the fields are green, to see you once again...

To hold you in my arms
To promise you my love
To tell you from the heart
You're all I'm thinking of

Reaching for the love that seems so far

So I say a little prayer
And hope my dreams will take its there
Where the skies are blue, to see you once again... my love.
All the seas from coast to coast
To find the place I Love The Most
Where the fields are green, to see you once again... my love.

Say it in a prayer (my sweet love)
Dreams will take it there
Where the skies are blue (woah yeah), to see you once again my love. (oh my love)
All the seas from coast to coast
To find the place I Love The Most
Where the fields are green, to see you once again.... My Love.

Minggu, 29 Juni 2014


BAB II
                                                             DASAR TEORI         

II.1. Dasar Teori
*        Gambaran Umum
                     - Sejarah dan Cabang Keilmuan
Perkembangan ilmu pengukuran tanah berasal dari bangsa romawi, ditandai dengan pekerjaan konstruksi diseluruh wilayah kekaisaran dan ilmu ini dilestarikan oleh bangsa arab yang disebut ilmu geometri praktis.Abad ke 13, van piso dalam karyanya “ Practica Geometria “ menguraikan bahwa pengukuran tanah dan dilanjutkan oleh liber quadratorium dengan konsep.
Dari segi peralatan, astrolabe adalah istrumen yang dipakai pada alat ini berbentuk lingkaran logam dan petunjuk  berputar dipusatnya di pegang oleh cicin diatasnya dan batang silung ( cross staff ) panjang batang menyebabkan jaraknya bisa diukur dengan perbandingan sudut.
Sinergis dengan perkembangan zaman dan komplesitas perkembangan bidang konstruksi, maka ilmu ini mengalami perkembangan pula sebagai konsekwensi atas tuntutan kebutuhan akan profesionalismenya dalam perencanaan pekerjaan konstruksi.
Pada perkembangannya ilmu geodasi ini mengalami proses spesifikasi keilmuan diantaranya, ilmu ukur tanah, survey – survey pemetaan, engejinering, agrokuntur, dan lain – lain. Dari spesifikasi kita memperlihatkan adanya kecenderungan dimana ilmu geodasi menjadi dasar urugen pada bidang keilmuan lainnya, selain itu dari bidang konstruksi, seperti pertanahan, perhutanan, ilmu kelautan, pertanian, perikanan, pertambangan dan lain – lain. Walaupun ada spesifikasi tersebut, itu tidak mempengaruhi tingkat substansinya dan hal ini juga memiliki kesamaan pendekatan, baik proses pengambilan data sampai pada proses pengolahan yang membedakan adalah tingkat aplikasinya.  

            -Tujuan dan aplikasi ilmu ukur tanah
Perencanaan yang dilandaskan oleh perhitungan yang teliti bagi pembangunan tersebut, akan mengantarkan manuasia mendapatkan hasil yang optimal sebagai imbalan dari jerih payah tersebut.
Adapun maksud dari pengukuran tanah merupakan salah satu langkah yang sangat penting dalam bidang rekayasa terutama dalam bidang teknik sipil. Pengukuran ini diperlukan untuk merencanakan antara lain: jalan raya, jembatan, terowongan, saluran irigasi, bendungan, bangunan gedung, serta pengaplingan tanah. Para perencana pada bidang teknik sipil yang merencanakan pengukuran harus mengerti metode dan instrument yang dipakai termasuk kemampuan alat dan keterbatasnya.
Aplikasi pemetaan yang dimaksud dalam bagian ini adalah pemetaan yang pekerjaan ukurnya dilakukan setelah peta yang pertama dipakai oleh para perancang dan perencana dalam merencanakan pembangunan atau pekerjaan konstruksi yang mereka maksud. Selanjutnya hasil desain dan perencanaan yang mereka maksud, dituangkan di atas peta tersebut Pada pemetaan jenis kedua ini, pekerjaan yang dilakukan misalnya, stakeOut (Pematokan). Hal ini dilakukan dari atas peta yang menyiratkan pola dua dimensi dan ditransformasikan kepermukaan bumi yang berarti tiga dimensi. Suatu pengukuran ilmu ukur tanah dalam pekerjaannya dapat dibagi menjadi 2, yaitu pekerjaan lapangan dan pekerjaan kantor.
1.      Pekerjaan Lapangan
a)      Melakukan peninjauan lapangan untuk mengetahui bagaimana kondisi medan, menentukan daerah pengukuran dan caranya.
b)      Mengadakan pengukuran yang diperlukan dan mencakup daerah yang dianngap sudah mewakili.
c)      Mengadakan pencatatan dengan rapi dan teliti.
d)     Membuat sketsa – sketsa yang mencakup daerah pengukuran.
2.      Pekerjaan Kantor
a)      Melakukan koreksi – koreksi terhadap alat yang yang akan dipergunakan.
b)      Menyiapakan formulir – formulir untuk pencatatan dan mempersiapkan segala peralatan yang dipergunakan untuk pekerjaan lapangan.
c)      Melakukan perhitungan – perhitungan hasil pengukuran di lapangan.
d)     Melakukan pengambaran peta.
e)      Melakukan perencanaan lebih lanjut yang diperlukan misalnya perhitungan luas, perhitungan volume penimbunan, penggalian dan lain – lain.





II.2 Penyipat Datar ( Waterpassing )
            Waterpass (penyipat datar) adalah suatu alat ukur tanah yang dipergunakan untuk mengukur beda tinggi antara titik-titik saling berdekatan. Beda tinggi tersebut ditentukan dengan garis-garis visir (sumbu teropong) horizontal yang ditunjukan ke rambu-rambu ukur yang vertical.
Sedangkan pengukuran yang menggunakan alat ini disebut dengan Levelling atau Waterpassing. Pekerjaan ini dilakukan dalam rangka penentuan tiggi suatu titik yang akan ditentukan ketiggiannya berdasarkan suatu system referensi atau bidang acuan.
Sistem referensi atau acaun yang digunakan adalah tinggi muka air air laut rata-rata atau Mean sea Level (MSL) atau system referensi lain yang dipilih.Sistem referensi ini mempunyai arti sangat penting, terutama dalam bidang keairan, misalnya: Irigasi, Hidrologi, dan sebagainya. Namun demikian masih banyak pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukan system referinsi.
Untuk menentukan ketinggian suatu titik di permukaan bumi tidak selalu tidak selalu harus selalu mengukur beda tinggi dari muka laut (MSL), namun dapat dilakukan dengan titik-titik tetap yang sudah ada disekitar lokasi oengukuran. Titik-titik tersebut umumnya telah diketahui ketinggiannya maupun kordinatnya (X,Y,Z) yang disebut Banch Mark (BM). Banch mark merupakan suatu tanda yang jelas (mudah ditemukan) dan kokoh dipermukaan bumi yang berbentuk tugu atau patok beton sehingga terlindung dari faktor-faktor pengrusakan.
Manfaat penting lainnya dari pengukuran Levelling ini adalah untuk kepentingan proyek-proyek yang berhubungan dengan pekerjaan tanah (Earth Work) misalnya untuk menghitung volume galian dan timbunan. Untuk itu dikenal adanya pengukuran sipat datar profil memanjang (Long section) dan sipat datar profil melintang (Cross section).
Dalam melakukan pengukuran sipat datar dikenal adanya tingkat-tingkat ketelitian sesuai dengan tujuan proyek yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan pada setiap pengukuran akan selalu terdapat kesalah-kesalahan. Fungsi tingkat-tingkat ketelitan tersebut adalah batas toleransi kesalahan pengukuran yang diperbolehkakan. Untuk itu perlu diantisipasi kesalah tersebut agar di dapat suatu hasil pengukuran untuk memenuhi batasan toleransi yang telah ditetapkan.



Pekerjaan penyipat datar dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
1.      Penyipat datar untuk menentukan selisih tinggi antara dua tempat.
2.      Penyipat datar profil untuk mengetahui penampang tanah baik pada arah memanjang maupun arah melintang.
Didalam penerapannya pengukuran penyipat datar tergantung akan kebutuhannya dan kepentingannya yaitu :
-        Untuk membuat kerangka peta penampang dari peta penampang.
-        Pengukuran titik-titik ketinggian  pada daerah tertentu.
-        Pengukuran ketinggian peta penampang topografi pada daerah lubang bukaan (daerah pertambangan, terowongan jalan kereta api), peta penampng topografi jalur irigasi, jalan kereta api, jalan raya dan lain sebagainya.
Prinsip kerja dari penyipat datar adalah sebagai berikut :


Dh
 








Bila ada dua titik A dan B, maka pembacaan garis bidik horizontal pada dua titik akan memberikan selisih beda tinggi dengan rumusan sebagai berikut :
            ΔhAB = b.ta – b.tb
Keterangan :
-        ΔhAB = Beda tinggi antara titik A dan titik B.
-        b.ta     = Pembacaan benang tengah pada rambu belakang.
-        b.tb     = Pembacaan benang tengah pada rambu muka.






-        Penyipat Datar Memanjang
Pengukuran sipat datar memanjang merupakan pengukuran beda tinggi di antara dua titik. Bila kedua titik A dan B tersebut letaknya berjauhan sehingga pembacaan rambu tidak terlihat dengan jelas dan menjadi kurang teliti, atau disebabkan kondisi permukaan tanah yang mengakibatkan garis bidik titik memotong rambu karena rambu berada diatas atau dibawah alat.





Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka jarak antara titik A dan titik B dibagi menjadi jarak-jarak yang kecil, sehingga pengukuran dapat dilakukan dengan mudah dan baik. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan pada pelaksanaan pengukuran diantaranya yaitu;
-          Pengukuran beda tinggi dalam 1 slag yaitu, pengukuran beda tinggi di antara dua posisi rambu belakang (b) dan rambu muka (m).
-          Pembagian jarak antara posisi berdirinya alat ukur dengan masing-masing rambu yaitu maksimal 60 meter, dan usahakan pembagian jarak tersebut berimbang atau ± sama.
-        Rambu A diletakkan dititik A dan pilihlah tempat untuk meletakan alat ukur, misalnya di N1, sehingga rambu masih bisa dibaca dilensa.
-     Rambu 1 ditempatkan dititik 1, jarak antara alat ukur kerambu A dan alat ukur ke rambu 1 diusahakan kira – kira sama.
-     Pembacaan rambu di A = ba dan rambu 1 = m1, pembacaan dilakukan untuk benang atas, tengah dan bawah. Hasil pembacaan benang tengah harus sama dengan benang atas ditambah benang bawah dibagi 2.
-     Setelah pembacaan dan pencatatan selesai, kemudian alat ukur dipindah di titik N2 . Kemudian dilakukan pembacaan lagi untuk rambu 1 sebagai belakang dan rambu 2 sebagai depan.
-     Pekerjaan dilakukan sampai pada titik B dan dilakukan lagi dari arah titik B ke titik A. Kemudian hasilnya merupakan rata – rata pembacaan dari titik A ke titik B dan dari titik B ke titik A.
-     Beda tinggi (hAB) merupakan jumlah dari selisih – selisih tinggi titik – titik tersebut dala pembagian, yaitu :
ΔHA1 = bA – m1
ΔH12 = b1 – m2
ΔH23 = b2 – m3
ΔH3B = bB – m4
ΔHAB = S ΔH = ( b – m )

-        Penyipat Datar Profil
Dengan data ukuran jarak dan perbedaan tinggi titik-titik diatas permukaan tanah dapat ditentukan irisan tegak dilapangan yang dinamakan profil atau biasa pula disebut penampang. Pada pekerjaan-pekerjaan rekayasa seperti perencanaan jalan raya, jalan kereta api, saluran irigasi, lapangan udara dll, sangat dibutuhkan bentuk profil atau tampang pada arah tertentu untuk perencanaan kemiringan sumbu proyek, maupun hitungan volume galian atau timbunan tanah dan lain-lain.
Pengukuran profil umumnya dibedakan atas profil memanjang searah dengan sumbu proyek dan profil melintang dengan arah memotong tegak lurus sumbu proyek pada interval jarak yang tertentu. (Basuki, S. 2006)
Prinsip pengukuran profil dilapangan adalah menggunakan cara TGB untuk mengukur ketinggian titik-titik pada jalur pengukuran dilapangan










                                                               
·         Titik A ( HA  )               = Tinggi terhadap bidang nivo ditanah.
·         Tinggi garis bidik di titik A    = Tinggi titik A ditambah pembacaan benang tengah                                                    pada rambu di titik A.
·         Tinggi titik – titik lainnya       = Tinggi garis bidik pada titik A dikurangi dengan                                                        pembacaan benang tengah pada rambu yang diukur                                                              dari titik – titik tersebut.
Ø  Sehingga :
Tinggi garis bidik pada titik A            = HA + b.tA
Tinggi titik B ( HB )                            = (HA + b.tA ) – b.tB
Tinggi pada tempat alat ukur              = ( HA + b.tA ) - tI
Ø  Keterangan :
b.tA      = Pembacaan benang tengah di titik A.
b.tB        = Pembacaan benang tengah di titik B.
tI             = Tinggi alat ukur.

Pengukuran jarak – jarak antara detail profil dilakukan dengan perhitungan jarak optik maupun dengan cara pegas atau pengukuran langsung dilapangan. Misalnya arah penyipat datar dari titik A ke titik B selain dilakukan profil memanjang juga dilakukan secara melintang.




Ø  Keterangan :
Titik A sampai dengan titik B             = Profil memanjang yang juga dipakai untuk                                                                 garis tengah profil dan merupakan pusat dari                                                             profil melintang.
CS ( Cross Section )                                     = Profil melintang.
Misalnya : Di titik 1 merupakan titik memanjang yang juga sebagai titik pusat melintangnya, maka titik – titik L1 , L2 , L3 , L4.... dan seterusnya merupakan titik detail dari penampang titik 1. Semua jarak diukur dari titik 1 dan tinggi titik detail diukur dan dihitung terhadap garis bidik pada titik 1 ( Gambar Dibawah ).



-        Profil Memanjang
Sekilas bila dilihat cara pengukuran profil memanjang hampir sama dengan pengukuran sipat datar memanjang akan tetapi terdapat perbedaan dari maksud dan pola dilapangan. Dengan cara TGB khususnya cara kedua pada prinsip pengukuran beda tinggi antara kedua titik, alat berada diluar jalur sumbu proyek maka hal yang harus diperhatikan pada saat pengukuran adalah:
1.    Harus memiliki titik ikat atau BM dilapangan, dengan interval jarak antar titik yang umumnya dijumpai adalah 10, 15, 25, 50, 100 meter.
2.      Harus tersedia tabel pengukuran dan sketsa pengukuran.
3.      Dalam pengukuran cara TGB terdapat bacaan belakang, bacaan tengah dan   bacaan muka, mengingat alat berada diluar garis sumbu proyek sehingga pada posisi satu kali alat berdiri banyak titik yang dapat diukur.
4.      Rambu ditempatkan diatas patok sedangkan tinggi masing-masing patok harus diukur dari permukaan tanah.

-        Profil Melintang
Arah profil melintang di setiap stasiun umumnya diambil tegak lurus terhadap sumbu proyek, sebagai dasar ketinggian di setiap profil adalah titik-titik stasiun yang telah diukur dari profil memanjang. Lebar profil tergantung dari kebutuhan dan tujuan proyek, namun pada umumnya batas lebar profil melintang ke kiri dan kanan dari garis sumbu proyek adalah 50 m – 100 m. (Basuki, S. 2006)
Pada daerah yang relatif datar, satu profil melintang mungkin dengan satu kali kedudukan alat. Namun pada daerah yang mempunyai topografi curam atau bergelombang tidak cukup dengan sekali berdiri alat, mungkin dua kali atau lebih.
Di atas gambar profil inilah digambarkan tampang atau irisan dari rencana proyek dan luasan yang terjadi antara permukaan tanah asli dengan tampang proyek merupakan luas tampang galian atau timbunan yang diperlukan atau dibuang. Dengan mengkombinasikan antara tampang memanjang dan melintang maka volume dari tubuh tanah yang ditimbun atau digali dapat dihitung.
Adapun cara pengukuran profil melintang dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan profil memanjang, akan tetapi jarak antara titik-titik detail dilapangan lebih pendek dan disesuaikan dengan maksud pengukuran tersebut.
Cara lainnya adalah dengan alat berada di atas titik perpotongan sumbu proyek. Perbedaan dengan cara profil memanjang adalah tiap alat berdiri pada suatu patok harus diukur ketinggiannya dari atas patok dan ketinggian patok diukur dari permukaan tanah. Keuntungan cara ini yaitu;
                  Þ    Irisan tanah akan tergambar dengan jelas.
Þ    Tegak lurus garis sumbu proyek sehingga dapat digambar secara planimetris.


-        Pengukuran Sipat Datar Luas
Pengukuran sipat datar luas adalah merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mendapatkan relief permukaan tanah pada wilayah yang cukup luas. Gambaran lekukkan permukaan tanah tersebut dibutuhkan untuk merencanakan  pondasi bangunan, pekerjaan pertanian dan perkebunan. Untuk menggambarkan lekukan permukaan tanah digunakan garis garis tinggi. Garis tinggi tersebut terbentuk dari titik-titik yang memiliki ketinggian sama.
Untuk dapat melukiskan garis-garis tinggi dengan teliti pada suatu wilayah, maka haruslah diketahui sebanyak mungkin ketinggian titik titik pada seluruh wilayah yang di ukur tersebut.
Agar pengukuran dapat berjalan dengan mudah, cepat dan teliti maka perlu di lakukan pengamatan di lapangan guna penentuaan cara pengukuran dan letak kedudukan alat. Prinsip pengukuran yang di gunakan pada pengukuran sipat datar luas ini adalah cara tinggi garis bidik (TGB) adapun cara pengukuran yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:
·         Cara polar / radial, jika keadaan wilayah yang diukur merupakan pemukiman  sehingga jangkawan pengamatan menjadi terbatas.
·         Cara grid, jika keadaan wilayah yang di ukur tersebut terbuka atau kosong yaitu       membagi wilayah tersebut dalam kotak-kotak sehingga letak titik-titik teratur.

II.3 Theodolit
Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Berbeda dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja. Di dalam theodolit sudut yang dapat di baca bisa sampai pada satuan sekon (detik). Theodolite merupakan alat yang paling canggih di antara peralatan yang digunakan dalam survei. Pada dasarnya alat ini berupa sebuah teleskop yang ditempatkan pada suatu dasar berbentuk membulat (piringan) yang dapat diputar-putar mengelilingi sumbu vertikal, sehingga memungkinkan sudut horisontal untuk dibaca. Teleskop tersebut juga dipasang pada piringan kedua dan dapat diputarputar mengelilingi sumbu horisontal, sehingga memungkinkan sudut vertikal untuk dibaca. Kedua sudut tersebut dapat dibaca dengan tingkat ketelitian sangat tinggi (Farrington 1997).
Survei dengan menggunakan theodolite dilakukan bila situs yang akan dipetakan luas dan atau cukup sulit untuk diukur, dan terutama bila situs tersebut memiliki relief atau perbedaan ketinggian yang besar. Dengan menggunakan alat ini, keseluruhan kenampakan atau gejala akan dapat dipetakan dengan cepat dan efisien (Farrington 1997) Instrumen pertama lebih seperti alat survey theodolit benar adalah kemungkinan yang dibangun oleh Joshua Habermel (de: Erasmus Habermehl) di Jerman pada 1576, lengkap dengan kompas dan tripod. Awal altazimuth instrumen yang terdiri dari dasar lulus dengan penuh lingkaran di sayap vertikal dan sudut pengukuran perangkat yang paling sering setengah lingkaran. Alidade pada sebuah dasar yang digunakan untuk melihat obyek untuk pengukuran sudut horisontal, dan yang kedua alidade telah terpasang pada vertikal setengah lingkaran. Nanti satu instrumen telah alidade pada vertikal setengah lingkaran dan setengah lingkaran keseluruhan telah terpasang sehingga dapat digunakan untuk menunjukkan sudut horisontal secara langsung. Pada akhirnya, sederhana, buka-mata alidade diganti dengan pengamatan teleskop. Ini pertama kali dilakukan oleh Jonathan Sisson pada 1725. Alat survey theodolite yang menjadi modern, akurat dalam instrumen 1787 dengan diperkenalkannya Jesse Ramsden alat survey theodolite besar yang terkenal, yang dia buat menggunakan mesin pemisah sangat akurat dari desain sendiri. Di dalam pekerjaan – pekerjaan yang berhubungan dengan ukur tanah, theodolit sering digunakan dalam bentuk pengukuran polygon, pemetaan situasi, maupun pengamatan matahari.
Theodolit juga bisa berubah fungsinya menjadi seperti Pesawat Penyipat Datar bila sudut verticalnya dibuat 90º. Dengan adanya teropong pada theodolit, maka theodolit dapat dibidikkan kesegala arah. Di dalam pekerjaan bangunan gedung, theodolit sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku pada perencanaan / pekerjaan pondasi, theodolit juga dapat digunakan untuk menguker ketinggian suatu bangunan bertingkat.
ü  Macam / Jenis Theodolit
      Macam Theodolit berdasarkan konstruksinya, dikenal dua macam yaitu:
1. Theodolit Reiterasi ( Theodolit sumbu tunggal )
Dalam theodolit ini, lingkaran skala mendatar menjadi satu dengan kiap, sehingga bacaan skala mendatarnya tidak bisa di atur. Theodolit yang di maksud adalah theodolit type T0 (wild) dan type DKM-2A (Kem)
2. Theodolite Repitisi
     Konsruksinya kebalikan dari theodolit reiterasi, yaitu bahwa lingkaran  mendatarnya dapat   diatur dan dapt mengelilingi sumbu tegak.


-        Pekerjaan Pengukuran
Pelaksanaan pengukuran dengan menggunakan alat ukur theodolit ini melalui beberapa tahap, yaitu :
1.      Peninjauan lapangan ( Orientasi lapangan ).
2.      Pengukuran kerangka peta.
3.      Pengukuran detail.
4.      Pencatatan data lapangan.

1.      Peninjauan lapangan ( Orientasi lapangan )
Dalam peninjauan ini harus dilengkapi  dengan gambaran keadaan daerah yang akan diukur dengan membuat sketsa medanya. Sehingga akan mempermudah di dalam pelaksanaan pengukuran nantinya. Selain itu dilakukan pemasangan pathok – pathok untuk membuat kerangka pengukuran. Pada pemasangan pathok harus  memperhatikan :
a)      Pathok harus cukup ditanam di dalam tanah, agar tidak mudah dicabut orang.
b)      Pathok harus diberi tanda atau kedudukan, sehingga mudah mencarinya kembali.
c)      Pathok tidak boleh terlalu tinggi, kira – kira 2 cm di atas permukaan tanah.
d)     Jarak antara  pathok satu dengan yang lainnya di sesuaikan dengan keadaan di lapangan.
e)      Pathok harus diberi nomor urut, agar lebih mudah melakukan urutan dalam pengukuran.
f)       Di atas pathok diberi tanda titik atau dipaku, digunakan untuk meluruskan unting – unting dengan alat.

2.      Peninjauan lapangan ( Orientasi lapangan )
Kerangka peta umumnya dengan mengunakan pola poligon tertutup. Sedangkan untuk mengkoreksinya poligon tertutup hasil pengukuran dapat dengan menggunakan cara numeris dan cara grafis.
a.       Pengukuran dengan menggunakan cara numeris meliputi :
1.      Pengukuran azimuth awal, pengukuran ini tidak perlu menggunakan cara pengamatan azimuth matahari, tetapi pengukuran awal dilakukan dengan menggunakan kompas.
2.      Pengukuran sudut, harus dibedakan antara pengukuran sudut horizontal untuk perhitungan koordinat poligon tertutup dengan sudut vertikal untuk perhitungan jarak optik dan beda tinggi. Baik sudut horizontal maupun sudut vertikal pembacaan ke arah suatu titik poligon dilakukan 2 kali yaitu kedudukan teropong biasa dan kedudukan teropong luar biasa.
3.      Pengukuran jarak, metode yang dipergunakan adalah pengukuran jarak optik. Jarak antara titik – titik yang diukur dilakukan 2 kali, hal ini digunakan untuk chek dari sisi poligonnya.
b.      Pengukuran dengan menggunakan cara grafis
1.      Pengukuran azimuth
Azimuth dapat diukur dari setiap titik poligon atau dapat pula diukur dengan melompat satu titik poligon.
2.      Pengukuran jarak antara sudut vertikal
Metode yang digunakan adalah dengan pengukuran jarak optik dengan garis bidik miring bersamaan dengan pengukuran beda tinggi.

3.      Pengukuran Detail
Untuk pengukuran arah / azimuth, sudut – sudut vertikal dan jarak dari titik – titik detail cukup dilakukan satu kali pengukuran. Penentuan detail ataupun titik tinggi harus disesuaikan dengan keadaan daerah, jangan terlalu jarang dan terlalu rapat. Diusahakan tidak mempunyai arah yang saling memotong untuk menentukan kedudukan suatu bangunan, harus dikerjakan dengan teliti dan diwakili oleh setiap sudut bangunan. Jalan setapak harus dibedakan dengan jalan kecil, jalan umum, tidak beraspal dan lain – lain.
4.      Pencatatan Data Lapangan
Pencatatan hasil pengukuran dan pengamatan harus dikerjakan dengan teliti dan rapi. Sedapat mungkin di dalam pencatatan disertai dengan kedudukan dalam bentuk sketsa. Hal yang harus dikerjakan oleh pencatat adalah :
a.       Harus mengechek apakah pembacaan sudah betul, untuk sudut biasa dan luar biasa harus berselisih 180°. Pembacaan benang tengah harus = pembacaan benang atas ditambah pembacaan benang bawah : 2.
b.      Harus melaporkan kepada sipengamat untuk mengulangi pembacaan bila tidak jelas atau perlu diulang.
c.       Memperhatikan daerah sekitar bila ada obyek yang menarik untuk dibuat detailnya.

II.4 Poligon
          Kerangka Kontrol Horisontal (KKH) merupakan kerangka dasar pemetaan yang memperlihatkan posisi horisontal (X,Y) antara satu titik relatif terhadap titik yang lain di permukaan bumi pada bidang datar. Untuk mendapatkan posisi horisontal dari KKH dapat digunakan banyak metode, salah satu metode penentuan posisi horisontal yang sering digunakan adalah metode poligon. Metode poligon digunakan untuk penentuan posisi horisontal banyak titik dimana titik yang satu dan lainnya dihubungkan dengan jarak dan sudut sehingga membentuk suatu rangkaian sudut titik-titik (polygon). Pada penentuan posisi horisontal dengan metode ini, posisi titik yang belum diketahui koordinatnya ditentukan dari titik yang sudah diketahui koordinatnya dengan mengukur semua jarak dan sudut dalam poligon.
Ø  Macam – macam Poligon
1.      Poligon menurut bentuknya
-        Poligon Terbuka
Poligon terbuka adalah poligon yang titik awal dan titik akhirnya merupakan titik yang berlainan (tidak bertemu pada satu titik).

-        Poligon Tertutup
Poligon tertutup atau kring adalah poligon yang titik awal dan titik akhirnya bertemu pada satu titik yang sama. Pada poligon tertutup, koreksi sudut dan koreksi koordinat tetap dapat dilakukan walaupun tanpa titik ikat.

-        Poligon bercabang
Poligon cabang adalah suatu poligon yang dapat mempunyai satu atau lebih titik simpul, yaitu titik dimana cabang itu terjadi.
-        Poligon kombinasi
Bentuk poligon kombinasi merupakan gabungan dua atau tiga dari bentukbentuk poligon yang ada.
2.      Poligon menurut titiknya
-        Poligon terikat sempurna
Suatu poligon yang terikat sempurna dapat terjadi pada poligon tertutup ataupun poligon terbuka, suatu titik dikatakan sempurna sebagai titik ikat apabila diketahui koordinat dan jurusannya minimum 2 buah titik ikat dan tingkatnya berada diatas titik yang akan dihasilkan.
·         Poligon tertutup terikat sempurna :
Poligon tertutup yang terikat oleh azimuth dan koordinat.
·         Poligon terbuka terikat sempurna :
Poligon terbuka yang masing-masing ujungnya terikat azimuth dan koordinat.

-        Poligon terikat tidak sempurna
Suatu poligon yang terikat tidak sempurna dapat terjadi pada poligon tertutup ataupun poligon terbuka, dikatakan titik ikat tidak sempurna apabila titik ikat tersebut diketahui koordinatnya atau hanya jurusannya.
·         Poligon tertutup tidak terikat sempurna :
Poligon tertutup yang terikat pada koordinat atau azimuth saja.
·         Poligon terbuka tidak terikat sempurna :
1.      Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh azimuth saja, sedangkan ujung yang lain tidak terikat sama sekali. Poligon semacam ini dapat dihitung dari azimuth awal dan yang diketahui dan sudut-sudut poligon yang diukur, sedangkan koordinat dari masingmasing titiknya masih lokal.
2.      Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh koordinat saja, sedangkan ujung yang lain tidak terikat sama sekali.Poligon semacam ini dapat dihitung dengan cara memisalkan azimuth awal sehingga masing-masing azimuth sisi poligon dapat dihitung, sedangkan koordinat masing-masing titik dihitung berdasarkan koordinat yang diketahui. Oleh karena itu pada poligon bentuk ini koordinat yang dianggap betul hanyalah pada koordinat titik yang diketahui (awal) sehingga poligon ini tidak ada orientasinya.
3.      Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain tidak terikat. Poligon jenis ini dapat dikatakan satu titik terikat secara sempurna namun belum terkoreksi secara sempurna baik koreksi sudut maupun koreksi koordinat, tetapi sistim koordinatnya sudah benar.
4.      Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh azimuth. Pada poligon jenis ini ada koreksi azimuth, sedangkan koordinat titik-titik poligon adalah koordinat lokal.
5.      Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh koordinat. Jenis poligon ini tidak ada koreksi sudut tetapi ada koreksi koordinat.
6.      Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh koordinat, sedangkan ujung yang lain terikat azimuth. Pada poligon ini tidak ada koreksi sudut dan koreksi koordinat.
7.      Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat saja, sedangkan ujung yang lain terikat koordinat. Jenis poligon ini tidak ada koreksi sudut tetapi ada koreksi koordinat.
8.      Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain tidak terikat azimuth. Poligon ini ada koreksi sudut tetapi tidak ada koreksi koordinat.
9.      Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain tidak terikat azimuth. Jenis poligon ini ada koreksi sudut tetapi tidak ada koreksi koordinat.
-        Poligon Tidak Terikat/Bebas
·         Poligon tertutup tanpa ikatan sama sekali (poligon lepas).
·         Poligon terbuka tanpa ikatan sama sekali (poligon lepas), pengukuran seperti ini akan terjadi pada daerah-daerah yang tidak ada titik tetapnya dan sulit melakukan pengukuran baik dengan cara astronomis maupun dengan satelit. Poligon semacam ini dihitung dengan orientasi lokal artinya koordinat dan azimuth awalnya dimisalkan sembarang.

*      Perhitungan dan Penggambaran
1.      Penyelesaian Dengan Cara Numeris
Perhitungan yang dilakukan dengan cara numeris meliputi :
a.       Perhitungan sudut – sudut  horizontal
Sudut horizontal untuk penyelesaian koordinat poligon merupakan sudut horizontal yang didapat dari hasil pengukuran dengan kedudukan teropong biasa dan luar biasa. Misalnya titik 1 sebagai tempat berdirinya alat ukur theodolit, titik 2 dan N merupakan titik yang diarah hasil pembacaan piringan horizontal a° dan b°, maka sudut horizontalnya adalah 1 = a° - b°. Kemudian dengan cara yang sama dilakukan perhitungan sudut – sudut horizontal di titik – titik lainnya.
b.      Perhitungan jarak – jarak horizontal
Bila sisi poligon diukur dengan jarak optik, maka jarak horizontal diselesaikan dengan rumusan :
                             D = K.S.Cos2a
Keterangan :
-     K : Konstanta pengali = 100
-     S  : bb – ba
-     a  : sudut vertikal ( helling )
c.       Menghitung koreksi sudut dan sudut terkoreksi
Syarat jumlah sudut – sudut yang diukur sama dengan kelipatan 180° atau S sudut = ( n – 2 ).180°.
     * n adalah banyak sudut yang diukur *
Bila tidak demikan, maka terdapat kesalahan sudut ¦β yang besarnya sama dengan jumlah sudut – sudut yang diukur dikurangi kelipatan 180° atau ¦β = S sudut yang diukur – ( n – 2 ).180°.
Kemudian ¦β dibagi dengan banyaknya sudut yang diukur dan dikoreksikan kesetiap titik – titik poligon.
d.   Perhitngan azimuth sisi – sisi poligon
Bila sudut – sudut terkoreksi β1, β2, β3, β4.............dst yaitu sudut – sudut poligon awal sampai akhir, maka azimuthnya adalah :
                 a12       = azimuth awal
                 a23       = a12 + β2  ± 180°
                 a34       = a23 + β3  ± 180°
e.    Menghitung kesalahan absis dan D sin a terkoreksi
Syaratnya adalah  D sin a dengan nol ( 0 ), bila tidak demikan maka terdapat kesalahan absis sebesar ¦x.
                 ¦x = jumlah D sin a atau = S D sin a
                 Keterangan :
-        D = Jarak antara titik ke titik berikutnya.
-        a = azimuth sisi – sisi poligon
Koreksi untuk absis
                                  D12
                 ΔX12 =                  . ¦x
                                  S D
Sehingga : D12 sin a12 terkoreksi menjadi = D12 sin a12 ± ΔX12



f.     Perhitunngan kesalahan ordinat dan D cos a terkoreksi
Syarat jumlah D cos a sama dengan nol ( 0 ). Bila tidak terdapat kesalahan ordinat ¦y. Dengan rumusan ¦y =  S D cos a. Koreksi ordinat misalnya :
                                    D12
                 ΔY12 =                  . ¦y
                                  S D
Sehingga : D12 cos a12 terkoreksi menjadi = D12 cos a12 ± ΔY12
g.    Perhitunngan koordinat titik – titik poligon
Misalnya koordinat titik satu ( X1 : Y1 ), maka koordinat titik 2 adalah :
·         X2 = X1 + D12 sin a12 terkoreksi
·         Y2 = Y1 + D12 cos a12 terkoreksi

2.      Penyelesaian Poligon Tertutup Dengan Cara Grafis
Perhitungan kesalahan penutup poligon bari dapat diketahui setelah poligon tersebut tergambar seperti contoh dibawah ini :
a)      Buat garis lurus AA’
b)      Ukur AB, BC, CD, DE dan EA’ pada garis AA’ sesuai dengan panjang sisipoligon hasil pengukuran.
c)      Buat garis tegak lurus pada titik B, C, D, E dan A’
d)     Ukur A’A, sehingga A’A sama dengan f.
e)      Tarik garis AA, sehingga garis ini memotong pada B’, C’, D’ dan E’
f)       Koreksi – koreksi pada titik – titik B, C, D, E dan A adalah BB’, CC’, DD’, EE’ dan AA”.
g)      Buat garis poligon sejajar dengan AA’ pada titik B, C, D dan E.
h)      Ukurkan pada garis – garis sejajar tersebut BB’, CC’, DD’, EE’, dan AA’.
i)        Poligon tertutup yang terkoreksi adalah A, B’, C’, D’, E’ dan A’.












    






3.      Perhitungan Tinggi Titik Poligon Dan Tinggi Titik Detail
Perhitungan beda tinggi titik – titik poligon dihitung dengan menggunakan metode tachimetri sebagai berikut :
    
     ΔH = D tg a + ti – bt
     Atau
     ΔH = 100 ( bb – ba ) ½ sin 2a + ti – bt
Keterangan :
-        D = Jarak horizontal
-        a = Sudut vertikal ( helling )
-        bb = Pembacaan benang bawah
-        ba = Pembacaan benang atas
-        bt = Pembacaan benagn tengah
-        ti = Tinggi alat ukur
Untuk titik – titik detail perhitungan beda tingginya sama tersebut diatas, tetapi ketinggiannya dihitung berdasarkan titik ikat pada saat membidik.


4.      Penggambaran
Hal – hal yang perlu diperhatikan di dalam penggambaran adalah :
a.       Titik – titik poligon keliling diplot dari koordinat – koordinatnya.
b.      Titik – titik detail yang berupa bangunan dengan melihat sketsa dari pekerjaan lapangan.
c.       Titik – titik tinggi tersebut digambarkan beserta harga ketinggiannya, digunakan untuk penggambaran garis kontur.
d.      Menentukan letak garis – garis tinggi atau garis kontur di antara titik – titik tinggi yang sudah diplotkan. Interval ketinggian tergantung dari kondisi daerah yang dipetakan. Penggambaran garis kontur dengan menggunakan metode interpolasi dan ekstrapolasi. Setelah selesai garis kontur, maka garis yang lain dihapuskan dan diberi indek kontur dan gambar bangunan seperti jalan, gedung, jembatan dan lain – lain.